Agen AI kini telah berkontribusi lebih dari 19% pada aktivitas on-chain, meskipun dalam perdagangan terbuka, mereka masih kalah dari manusia dengan margin yang mencapai 5 banding 1. Ini diungkapkan dalam laporan terbaru dari DWF Ventures.
Apa yang Terjadi?
Agen AI, yang merupakan sistem perangkat lunak mandiri yang dapat merencanakan, mengambil keputusan, dan melaksanakan transaksi on-chain tanpa intervensi manusia, telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam dunia DeFi. Meskipun demikian, saat tugas yang dihadapi menjadi lebih kompleks, agen AI ini masih mengalami kesulitan, terutama dalam perdagangan yang tidak terstruktur.
Siapa yang Terlibat?
Laporan tersebut mencatat bahwa CEO Coinbase, Brian Armstrong, percaya bahwa ekonomi berbasis agen ini bisa segera melampaui ekonomi yang dikelola manusia. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa sebelum agen AI dapat berkembang lebih jauh, mereka memerlukan infrastruktur yang lebih baik.
Mengapa Ini Penting?
Dalam konteks DeFi, agen AI saat ini menjalankan strategi hasil di berbagai protokol peminjaman, mengelola likuiditas, menyeimbangkan portofolio, dan mengeksekusi perdagangan. Nilai total yang dikelola oleh agen ini telah melampaui $39 juta, meskipun sebagian besar masih dalam tahap pengujian awal. Misalnya, protokol keuangan otonom Giza memiliki agen ARMA yang telah berhasil menghasilkan imbal hasil sebesar 9,75% per tahun dengan memindahkan stablecoin antara platform peminjaman untuk mendapatkan suku bunga terbaik.
Perbandingan dengan Manusia
Namun, dalam kompetisi perdagangan saham yang diadakan oleh tradexyz, agen AI teratas kalah lebih dari 5 kali lipat dari trader manusia terbaik. Dalam sebuah kontes terpisah yang melibatkan model-model AI terkemuka, hanya tiga dari tujuh yang mampu menghasilkan keuntungan per perdagangan. Menurut Xin Yi Lim, asosiasi senior untuk investasi di DWF Labs, “Agen mengalami kesulitan ketika situasi tidak jelas,” tetapi mereka dapat unggul “ketika tujuan sempit dan parameter jarang berubah.”
Dampak untuk Indonesia
Bagi Indonesia, perkembangan ini bisa berarti adanya peluang baru dalam sektor teknologi finansial. Dengan semakin banyaknya investor dan perusahaan yang mengadopsi teknologi DeFi, agen AI dapat menjadi alat yang membantu meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya transaksi. Namun, penting untuk diingat bahwa adopsi teknologi ini harus disertai dengan pemahaman yang mendalam dan infrastruktur yang memadai untuk meminimalisir risiko.
Kesimpulan
Saat ini, meskipun agen AI menunjukkan potensi yang menjanjikan, mereka masih memiliki banyak tantangan yang harus diatasi sebelum dapat bersaing dengan manusia dalam perdagangan yang lebih kompleks. Ekonomi berbasis agen diperkirakan akan tumbuh, tetapi dibutuhkan waktu dan pengembangan lebih lanjut untuk mencapai potensi penuhnya. Dengan adanya penelitian dan inovasi yang berkelanjutan, kita dapat berharap untuk melihat lebih banyak kemajuan dalam bidang ini di masa depan.







